Katanya Bantuan Berasal Dari Kantong Pribadi Anggota DPRD Gresik, Tapi Mereka Kok Masih Minta Fee

-



Lenterahukum - Papan nama proyek pengerjaan drainage Di Desa Banjaragung yang baru dilaksanakan pada bulan Februari 2025 ini, selain nominal anggaran, dalam banner tersebut juga tertulis siapa pelaksananya, termasuk volume dan panjang nya, tetapi sayang sekali dalam papan nama tersebut tidak ditulis bantuan tersebut berasal dari siapa ,hanya tertulis  Bantuan keuangan kabupaten tahun anggaran 2024 tetapi  tidak disebutkan dengan jelas siapa orang baik hati yang rela menyumbang duit milyaran rupiah tiap tahunnya untuk pembangunan desa di kabupaten gresik, hingga kini donatur tersebut masih misterius, 

Kalau benar bantuan tersebut berasal dari bantuan pihak ketiga baik perorangan, lembaga sosial maupun pemerintah pusat itu akan lebih ringkas cara penyerapanya, sifatnya hibah ,otomatis dikerjakan secara swakelola dan tidak perlu dilelang, tidak harus dikerjakan oleh pihak ketiga dalam mekanisme penunjukan langsung, pihak desa hanya membentuk  Tim Pelaksana Kegiatan yang berasal dari unsur masyarakat setempat, beda dengan anggaran yang bersumber dari APBD Kabupaten kota ditiap daerah , mekanismenya harus melalui sistem pengadaan barang dan jasa milik pemerintah. 

sumbangan atau hibah itu artinya, bantuan tersebut bukan berasal dari APBD Kabupaten Gresik ,tetapi dari pihak lain.
Setelah ditelusuri, para kepala desa mengatakan bahwa  bantuan tersebut berasal dari anggota DPRD kabupaten Gresik," Kita kalau ingin mendapat bantuan tersebut harus mengajukan proposal ke pak dewan dulu mas, setelah disetujui, kita tinggal menunggu pemberitahuan dari pemkab mas", kata salah seorang kepala desa yang sengaja tidak kami sebutkan namanya ini singkat. 
Tapi sayangnya proposal tersebut tidak gratis mas, ada fee bervariasi didalamnya, mulai 15 hingga 25 prosen, tergantung kesepakatan, lanjutnya. 
Lo.. Katanya bantuan itu dari pak dewan, duit pak dewan, kenapa mereka masih meminta fee, kok aneh... Niat nyumbang ta gak.. Duit sudah dikasih malah diminta lagi... Jangan jangan... 
Bayar fee nya di depan mas, kalau nunggu proyek nya cair sih gak apa apa, kita kadang bingung mencari dana untuk itu, akhirnya ya gak jadi tak ambil wong saya gak punya duit. 
Tapi proyek tersebut juga sangat mengkhatirkan mas, seperti tahun lalu banyak kepala desa yang merasa kecewa, karena nilai proyek tidak sesuai dengan proposal, selisihnya beda jauh, misalnya didalam proposal nilai pengajuanya Tiga Ratus juta rupiah , tapi ketika turun, reslisasinya hanya seratus juta, alasanya bermacam macam. 
Kayaknya ini saat yang tepat bagi Komisi Pemberantasan Korupsi untuk ngopi bareng  kepala desa di warkop (fan).